Dewi's Blog

Kebaikan itu layak untuk diperjuangkan

sebenarnya apa sih?

on 11 October 2012

sebenarnya apa sih yang bunda-bunda inginkan?
sebelum punya suami dulu, inginnya punya suami yang sholeh, mencintai Allah dan dakwah.bermalam-malam dimunajatkan untuk memiliki jodoh seperti itu. dan alhamdulillah Allah mengabulkan doa panjang dan penuh dengan ikhtiar itu..dia datang dengan membawakan janji untuk bisa membawa kita ke jannah-Nya.
tapi saat akhirnya kita memiliki beliau yang kita inginkan selama ini, kita kembali mengeluhkan hal yang justru kita inginkan saat sebelum menikah dahulu.
suami sering pulang malem karena dakwah
suami hanya bisa bertemu dengan istri 8 jam efektif selama seminggu
suami ikut dauroh berhari-hari sebagai pembicara
suami pergi kerja kita kerja, kita pulang suami belum pulang, kita tertidur, suami pulang.
dan akhirnya kegndahan hati pun terluapkan. antara mengijinkan suami berdakwah tapi tidak rela jika terlambat pulang atau pergi berhari-hari.
mau nya apa sih bunda?
ataukah lebih baik punya
suami pulang ontime bis itu cuman berkutat di rumah, maksimal di tetangga tow pojokan tempat satpam.
suami bertemu kita sepanjang waktu kita di rumah dan tidak memiliki kegiatan bermanfaat
suami kadang pergi camping berhari-hari, naik gunung,jalan-jalan ke pantai demi “have fun” dengan teman2nya, syukur2 kita di ajak.
suami maen game di rumah, berkutat di depan komputer atau galaxy tab nya dan gak beranjak ke luar rumah karenanya
mana sih yang diinginkan?
jadi please….ok? please…aku tidak tahu apa yang kumohon, tapi mungkin aku tau tapi tidak kuasa mengatakannya karena takut itu yag akan menimpa diriku dan ternyata aku tidak sanggup menghadapinya.
aku tahu wanita itu butuh tempat curhat, seperti yang kulakukan ini. tapi please saja, ok?
gerah, tak betah, merasa wanita itu lemah, tidak tahan banting, mau nya dimanja, dsb tiap kali aku tahu mereka bertingkah seperti itu.
woke, emang wanita ditakdirkan lemah, ingin dimanja, dsb sebagai fitrah seorang wanita
tapi tidak juga kan manja ke temennya? baik putra ma putri?
tidak juga kan ingin dilihat lemah, butuh teman yang mengatakan “yang sabar ya bund..”
jadi penasaran, hidup akhwat jaman dulu gimana ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: