Dewi's Blog

Kebaikan itu layak untuk diperjuangkan

komentar??? eits..tunggu dulu

Sering kali kita bias belajar hal-hal luar biasa dari peristiwa-pwristiwa kecil.kebiasaan kita berubah jauh hanya dengan satu kata. Keberanian kita menyala walau dengan ucapan yang singkat. Hal-hal kecil memang kadang merupakan hal besar dalam hidup. Hm..ini adalah curhatanku, entah mulainya harus darimana.. Suatu hari seorang anak kecil sekitar 10 taun berlari mendatangi ibunya dengan wajah gembira yang memancar di wajahnya. Di tangannya ada sebuah buku yang masih baru. Kok tahu? Iya donk, terlihat dari bungkus plastiknya yang masih menempel. Sang anak berseru memanggil ibunya dengan gembira dan memeluk tubuh ibunya yang hangat itu sambil berkata ,” lihat ibu..aku beli buku” “oh ya?” seru ang ibu tidak percaya, tapi senyum di wajahnya terpampang dengan jelas. Antara rasa heran dan bangga karena anaknya senang dengan buku. “coba ibu lihat..”sang ibu mengambil buku dari tangan anaknya. Dan dua detik kemudian wajahnya berkerut. Kenapa tidak? Disitu tertulis harga buku tersebut cukup mahal untuk putrinya yang baru 10 tahun itu. Rp35.000,00 Buku cerita bergambar fullcolour. Padahal dia juga pernah beli buku yang mirip dengan buku yang dibeli anaknya itu dengan harga yang hanya 12.500. kok anaknya bias-bisanya beli yang seharga segini sih? Mana cetakkannya agak kabur, jelek. Covernya juga bukan hard cover. Apa sih yang bagus? Sang ibu tidak sadar jika buah pikirannya terlahir lewat kata-katanya. Saat sadar…sang ibu hanya bias melihat wajah anaknya yang semula semangat membara menjadi tidak antusias. Saat namanya dipanggil ibunya pun dia menjawab dengan ogah. Hm…cerita khayal sih…tapi kahayalan ini mungkin pernah terjadi dalam hidup kita. Ok..mungkin bukan dengan anak kita, tapi dengan adik kita, kakak kita, orang tua kita bahkan, atau mungkin yang paling sering adalah dengan teman kita. Walaupun ada juga yang lebih sering ke adiknya sendiri. hehe Apa sih yang menjadi masalahnya? Mungkin cerita di atas terlalu ekstreem ya? Masalah di kasus ini : 1. Adanya rasa tidak percaya pada pilihan orang lain, padahal belum tentu kita tahu alas an kenapa orang lain memilih keputusan itu. 2. Adanya rasa sombong. Merasa lebih tahu, lebih paham dengan hal tersebut sehingga tanpa sadar sudah langsung mengomentari suatu hal dengan dasar ilmu dan pemahamannya 3. Kurangnya rasa toleransi untuk menghormati keputusan orang lain untuk memilih sesuatu dan tidak bias menahan diri untuk tidak berkomentar. Mungkin analisaku tanpa dasar..(memang sih) hanya berdasarkan perasaan semata dan ilmu kira-kira saja. Saya pernah baca, kalau tidak salah bunyinya kurang lebih begini “Seseorang yang hidup di bawah didikan yang penuh kritik maka akan tumbuh menjadi anak yang tidak bias memutuskan sendiri apa yang ia inginkan”. Walau kritik itu sekecil seperti contoh di atas. Tentu saja hal ini tidak baik bagi perkembangan jiwanya. Iya kan? Sadarilah…mungkin ini bukan perlakuan kita kepada anak yang lebih muda dari kita saja, tapi juga kepada teman2 kita sendiri. Kita tidak tahu bagaimana dia dibesarkan dan dalam lingkungan apa. Keep spirit dan memberitahu kepada saudaranya adalah suatu seni  selamat berkreasi hai pemuda pemudi andalan negeri. hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: